BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Kardiovaskuler
terdiri dari dua suku kata yaitu cardiac dan vaskuler. Cardiac yang berarti
jantung dan vaskuler yang berarti pembuluh darah. Dalam hal ini mencakup sistem
sirkulasi darah yang terdiri dari jantung
komponen darah dan pembuluh darah. Pusat peredaran darah atau sirkulasi
darah ini berawal dijantung, yaitu sebuah pompa berotot yang berdenyut secara
ritmis dan berulang 60-100x/menit. Setiap denyut menyebabkan darah mengalir
dari jantung, ke seluruh tubuh dalam suatu jaringan tertutup yang terdiri atas
arteri, arteriol, dan kapiler kemudian kembali ke jantung melalui venula dan
vena
Dalam
mekanisme pemeliharaan lingkungan internal sirkulasi darah digunakan sebagai
sistem transport oksigen, karbon dioksida, makanan, dan hormon serta
obat-obatan ke seluruh jaringan sesuai dengan kebutuhan metabolisme tiap-tiap
sel dalam tubuh. Dalam hal ini, faktor perubahan volume cairan tubuh dan hormon
dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Dalam memahami sistem sirkulasi jantung, kita
perlu memahami anatomi fisiologi yang ada pada jantung tersebut sehingga kita
mampu memahami berbagai problematika berkaitan dengan sistem kardivaskuler
tanpa ada kesalahan yang membuat kita melakukan neglicent( kelalaian). Oleh karena itu, sangat penting sekali
memahami anantomi fisiologi kardiovaskuler
yang berfungsi langsung dalam mengedarkan obat-obatan serta oksigenasi
dalam tubuh dalam proses kehidupan.
Dalam
melakukan pengkajian dengan baik, maka diperlukan pemahaman, latihan dan
ketrampilan mengenal tanda dan gejala yang ditampilkan oleh pasien. Proses ini
dilaksanakan melalui interaksi perawatan dari klien, observasi, dan pengukuran.Pemeriksaan
dalam keperawatan menggunakan pendekatan yang sama dengan pengkajian fisik
kedokteran, yaitu dengan pendekatan inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi .
Pengkajian fisik kedokteran dilakukan untuk menegakkan diagnosis yang berupa
kepastian tentang penyakit apa yang diderita klien . pengkajian fisik
keperawatan pada prinsipnya dikembangkan berdasarkan model keperawatan yang
lebih difokuskan pada respon yang ditimbulkan akibat masalah kesehatan yang
dialami. Pengkajian fisik keperawatan harus mencerminkan diagnosa fisik yang
secara umum perawat dapat membuat perencanaan tindakan untuk mengatasinya.
Untuk mendapatkan data yang akurat sebelum pemeriksaan fisik dilakukan
pengkajian riwayat kesehatan, riwayat psikososial, sosek, dll. Hal ini
memungkinkan pengkajian yang fokus dan tidak menimbulkan bias dalam mengambil
kesimpulan terhadap masalah yang ditemukan.
1.2.Rumusan Masalah
Ø Bagaimana
riwayat keperawatan sistem kardiovaskuler?
Ø Bagaimana
pemeriksaan fisik pada sistem kardivaskuler?
Ø Apa saja
pemeriksaan diagnostik pada sistem kadiovaskuler?
1.3.Tujuan Penulisan
Makalah
ini di buat penulis dengan tujuan agar
mahasiswa, tenaga kesehatan atau tenaga medis dapat memahami berkaitan dengan
anatomi dan fisiologi sistem kardiovaskuler
1.4.Manfaat Penulisan
Makalah
ini di buat oleh penulis agar meminimalisir kesalahan dalam tindakan praktik
keperawatan yang di sebabkan oleh ketidakpahaman dalam anatomi fisiologi dalam
sistem kardiovaskuler sehingga berpengaruh besar terhadap kehidupan klien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Riwayat Keperawatan
Sistem Kardiovaskuler
v Keluhan
Utama :
• Nyeri dada
• Sesak nafas
• Edema
• Nyeri dada
• Sesak nafas
• Edema
v Riwayat
Kesehatan :
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan yang mencerminkan refleksi perubahan dan sirkulasi oksigen.
• Nyeri ---- lokasi, durasi, awal pencetus, kwalitas, kuantitas, factor yang memperberat/memperingan, tipe nyeri.
• Integritas neurovaskuler ---- mengalami panas, mati rasa, dan perasaan geli.
• Status pernafasan ---- sukar bernafas, nafas pendek, orthopnoe, paroxysmal nocturnal dyspnoe dan efek latihan pada pernafasan.
• Ganngguan sirkulasi ---- peningkatan berat badan, perdarahan, pasien sudah lelah.
• Riwayat kesehatan sebelumnya ---- penyakit yang pernah diderita, obat-obat yang digunakan dan potensial penyakit keturunan.
• Kebiasaan pasien ---- diet, latihan, merokok dan minuman.
Digunakan untuk mengumpulkan data tentang kebiasaan yang mencerminkan refleksi perubahan dan sirkulasi oksigen.
• Nyeri ---- lokasi, durasi, awal pencetus, kwalitas, kuantitas, factor yang memperberat/memperingan, tipe nyeri.
• Integritas neurovaskuler ---- mengalami panas, mati rasa, dan perasaan geli.
• Status pernafasan ---- sukar bernafas, nafas pendek, orthopnoe, paroxysmal nocturnal dyspnoe dan efek latihan pada pernafasan.
• Ganngguan sirkulasi ---- peningkatan berat badan, perdarahan, pasien sudah lelah.
• Riwayat kesehatan sebelumnya ---- penyakit yang pernah diderita, obat-obat yang digunakan dan potensial penyakit keturunan.
• Kebiasaan pasien ---- diet, latihan, merokok dan minuman.
v Riwayat
Perkembangan :
Struktur system kardiovaskuler berubah sesuai usia.
• Efek perkembangan fisik denyut jantung.
• Produksi zat dalam darah.
• Tekanan darah.
Struktur system kardiovaskuler berubah sesuai usia.
• Efek perkembangan fisik denyut jantung.
• Produksi zat dalam darah.
• Tekanan darah.
v Riwayat
Sosial :
• Cara hidup pasien.
• Latar belakang pendidikan
• Sumber-sumber ekonomi.
• Agama.
• Kebudayaan dan etnik.
• Cara hidup pasien.
• Latar belakang pendidikan
• Sumber-sumber ekonomi.
• Agama.
• Kebudayaan dan etnik.
v Riwayat
Psikologis :
Informasi tentang status psikologis penting untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan.
• Mengidentifikasi stress/sumber stress.
• Mengidentifikasi cara koping, mekanisme dan sumber-sumber coping.
Informasi tentang status psikologis penting untuk mengembangkan rencana asuhan keperawatan.
• Mengidentifikasi stress/sumber stress.
• Mengidentifikasi cara koping, mekanisme dan sumber-sumber coping.
v 11 Pola
Kesehatan Fungsional (Gordon)
·
Pola persepsi kesehatan dan penanganan kesehatan :
klien merasakan kondisi kesehatan dan bagaimana cara menangani
·
Pola nutrisi/metabolik :
gambaran pola makan dan kebutuhan
cairan b/d kebutuhan metabolik
dan suplai nutrisi
·
Pola eliminasi
:
gambaran pola fungsi pembuangan (BAB, BAK, melalui
kulit)
·
Pola
aktifitas/olah raga : gambaran pola aktifitas, olahraga, santai, rekreasi
·
Pola tidur-istirahat : gambaran pola
tidur, istirahat, dan relaksasi
·
Pola kognitif dan perceptual :
gambaran pola konsep diri klien dan persepsi
terhadap dirinya
·
Pola
peran/hubungan : gambaran pola peran dalam berpartisipasi /
berhubungan dengan orang lain
·
Pola
seksualitas/reproduksi : gambaran pola kenyamanan/tidak nyaman
dengan pola seksualitas dan gambaran pola reproduksi
·
Pola
koping/toleransi stress :
gambaran pola koping klien secara umum
dan efektifitas dalam toleransi terhadap stress
·
Pola nilai/keyakinan
: gambaran pola nilai-nilai, keyakinan-keyakinan
(termasuk aspek spiritual),
dan tujuan yang dapat mengarahkan menentukan
pilihan/keputusan.
2.2. Pemeriksaan
Fisik Sistem Kardiovaskuler
Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan
tubuh untuk menentukan adanya kelainan-kelainan dari suatu sistem atau suatu
organ bagian tubuh dengan cara melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk
(perkusi) dan mendengarkan (auskultasi). Urutan pemeriksaan berjalan secara
logis dari kepala ke kaki, dan bila telah terlatih dapat dilakukan hanya dalam
waktu sekitar 10 menit :
(1) keadaan umum,
(2) tekanan darah,
(3) nadi,
(4) tangan,
(5) kepala dan leher,
(6) jantung,
(7) paru,
(8) abdomen dan
(9) kaki serta tungkai.
Dalam pemeriksaan selanjutnya pada
jantung disamping ditemukan adanya hasil pemeriksaan normal, juga bisa kita
dapati kelainan-kelainan hasil pemeriksaan fisik yang meliputi antara lain :
batas jantung yang melebar, adanya berbagai variasi abnormal bunyi jantung dan
bunyi tambahan berupa bising (murmur).
1. Keadaan Umum
Observasi tingkat distress pasien.
Tingkat kesadaran harus dicatat dan dijelaskan. Evaluasi terhadap kemampuan
pasien untuk berpikir secara logis sangat penting dilakukan karena merupakan
cara untuk menentukan apakah oksigen mampu mencapai otak (perfusi otak).
Kesadaran klien perlu dinilai secara umum yaitu compos mentis, apatis,
somnolen, sopor, soporokomatous, atau koma.
2. Pemeriksaan Tekanan
Darah
Tekanan darah adalah tekanan yang
ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti curah jantung, ketegangan arteri, dan volume, laju serta kekentalan
(viskositas) darah. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan
sistolik terhadap tekanan diastolic, dengan nilai dewasa normalnya berkisar
dari 100/60 sampai 140/90. Teknik penggukuran tekanan darah meliputi :
ü Manset
spignomanometer diikatkan pada lengan atas, stetoskop ditempatkan pada arteri
brakialis pada permukaan ventral siku agak bawah manset spigmomanometer.
ü Tekanan
dalam spigmomanometer dinaikkan dengan memompa udara ke dalam manset sampai
denyut radial dan brachial menghilang. Manset dikembangkan lagi sebesar 20
sampai 30 mmHg diatas titik hilangnya denyutan radial kemudian tekanan didalam
spigmomanometer di turunkan secara perlahan.
ü Pada saat
denyut nadi mulai terdengar kembali, baca tekanan yang tercantum pada skala
spigmomanometer, tekanan ini adalah tekanan sistolik.
ü Suara
denyyutan nadi selanjutnya agak keras dan tetap terdengar sekeras itu sampai
suatu saat denyutannya melemah atau menghilang sama sekali. Suara denyutan
terakhir adalah tekanan diastolic.
3. Pemeriksaan Nadi
Ø Palpasi
Penilaian palpasi meliputi frekuensi, irama, kualitas, konfigurasi gelombang, dan keadaan pembuluh darah. Frekuensi jantung normal
Penilaian palpasi meliputi frekuensi, irama, kualitas, konfigurasi gelombang, dan keadaan pembuluh darah. Frekuensi jantung normal
|
Usia
|
Frekuensi jantung
(denyut/menit)
|
|
Bayi
|
120-160/mnt
|
|
todler
|
90-140/mnt
|
|
Prasekolah
|
80-110/mnt
|
|
Usia
sekolah
|
75-100/mnt
|
|
Remaja
|
60-90/mnt
|
|
Dewasa
|
60-100/mnt
|
Ø Irama
Secara normal irama merupakan
interval reguler yang terjadi antara setiap denyut nadi atau jantung. Bila
irama nadi tidak teratur, maka frekuensi jantung harus dihitung dengan
melakukan auskultasi denyut apikal selama satu menit penuh sambil meraba denyut
nadi. Setiap perbadaan antara kontraksi yang terdengar dan nadi yang teraba
harus dicatat. Gangguan irama (disritmia) sering mengakibatkan defisit nadi, suatu perbedaan antara
frekuensi apeks (frekuensi jantung yang terdengar di apeks jantung) dan
frekuensi nadi. Defisit nadi biasanya terjadi pada fibrilasi atrium, flutter
atrium, kontraksi ventrikel premature dan berbagai derajat blok jantung.
Ø Kekuatan nadi
Kekuatan atau amplitudo dari nadi
menunjukkan volume darah yang diejeksikan ke dinding arteri pada setiap
kontraksi jantung dan kondisi sistem pembuluh darah arterial yang mengarah pada
nadi. Secara normal, kekuatan nadi tetap sama pada setiap denyut jantung.
0 tidak
ada, tidak dapat dipalpasi
1+ nadi
hilang, sangat sulit dipalpasi, mudah hilang
2+ mudah
dipalpasi, nadi normal
3+ nadi
penuh, meningkat
4+ kuat,
nadi memantul, tidak dapat hilang
4.
Tangan
Pada pasien
jantung, yang berikut merupakan temuan yang paling penting untuk diperhatikan
saat memeriksa ekstremitas atas :
·
Sianosis perifer, dimana
kulit tampak kebiruan, menunjukkan penurunan kecepatan aliran darah ke perifer,
sehingga perlu waktu yang lebih lama bagi hemoglobin mengalami desaturasi.
Normal terjadi pada vasokonstriksi perifer akibat udara dingin, atau pada
penurunan aliran darah patologis, misalnya, syok jantung.
·
Pucat, dapat
menandakan anemia atau peningkatan tahanan vaskuler sistemik.
·
Waktu pengisian kapiler
(CRT=Capillary Refill Time), merupakan dasar memperkirakan kecepatan aliran
darah perifer. Untuk menguji pengisian kapiler, tekanlah dengan kuat ujung jari
dan kemudian lepaskan dengan cepat. Secara normal, reperfusi terjadi hampir
seketika dengan kembalinya warna pada jari. Reperfusi yang lambat menunjukkan
kecepatan aliran darah perifer yang melambat, seperti terjadi pada gagal
jantung.
·
Temperatur dan kelembapan
tangan dikontrol
oleh sistem saraf otonom. Normalnya tangan terasa hangat dan kering. Pada
keadaan stress, akan terasa dingin dan lembab. Pada syok jantung, tangan sangat
dingin dan basah akibat stimulasi sistem saraf simpatis dan mengakibatkan
vasokonstriksi.
·
Edema meregangkan
kulit dan membuatnya susah dilipat.
·
Penurunan turgor kulit terjadi
pada dehidrasi dan penuaan.
·
Penggadaan (clubbing) jari
tangan dan jari kaki menunjukkan desaturasi hemoglobin kronis, seperti
pada penyakit jantung congenital.
5. Pemeriksaan Vena
Jugularis
Perkiraan fungsi jantung kanan dapat
dibuat dengan mengamati denyutan vena jugularis di leher. Ini merupakan cara
memperkirakan tekanan vena sentral, yang mencerminkan tekanan akhir diastolic
atrium kanan atau ventrikel kanan (tekanan sesaat sebelum kontraksi ventrikel
kanan). Vena jugularis diinspeksi untuk mengukur tekanan vena yang dipengaruhi
oleh volume darah, kapasitas atrium kanan untuk menerima darah dan
mengirimkannya ke ventrikel kanan, dan kemampuan ventrikel kanan untuk
berkontraksi dan mendorong darah ke arteri pulmoner. Teknik :
o Minta klien
berbaring telentang dengan kepala di tinggikan 30 sampai 45 derajat (posisi
semi-Fowler)
o Pastikan
bahwa leher dan toraks atas sudah terbuka. Gunakan bantal untuk meluruskan
kepala.
o Hindari
hiperekstensi atau fleksi leher untuk memastikan bahwa vena tidak teregang atau
keriting.
o Biasanya
pulsasi tidak terlihat jika klien duduk. Pada saat klien kembali ke posisi
telentang dengan perlahan, tinggi pulsasi vena mulai meningkat diatas tinggi
manubrium, yaitu 1 atau 2 cm disaat klien mencapai sudut 45 derajat. Mengukur
tekanan vena dengan mengukur jarak vertical antara sudut Louis dan tingkat
tertinggi titik pulsasi vena jugularis interna yang dapat dilihat.
o Gunakan dua
penggaris. Buat garis dari tepi bawah penggaris biasa dengan ujung area pulsasi
si vena jugularis. Kemudian ambil penggaris sentimeter dan buat tegak lurus
dengan penggaris pertama setinggi sudut sternum. Ukur dalam sentimeter jarak
antara penggaris kedua dan sudut sternal.
o Ulangi
pengukuran yang sama di sisi yang lain. Tekanan bilateral lebih dari 2,5 cm
dianggap meningkat dan merupakan tanda gagal jantung kanan. Peningkatan tekanan
di satu sisi dapat disebabkan oleh obstruksi.
6. Pemeriksaan Jantung
v Inspeksi
Toraks/dada
Pasien berbaring dengan dasar yang rata. Pada bentuk
dada “Veussure Cardiac” terdapat penonjolan setempat yang lebar di daerah
precordium, di antara sternum dan apeks codis. Kadang-kadang memperlihatkan
pulsasi jantung . Adanya Voussure Cardiaque, menunjukkan adanya kelainan
jantung organis, kelainan jantung yang berlangsung sudah lama/terjadi sebelum
penulangan sempurna, hipertrofi atau dilatasi ventrikel. Benjolan ini dapat
dipastikan dengan perabaan.
Ictus Cordis
Pada orang dewasa normal yang agak
kurus, seringkali tampak dengan mudah pulsasi yang disebut ictus cordis pada
intercostal V, linea medioclavicularis kiri. Pulsasi ini letaknya sesuai dengan
apeks jantung. Diameter pulsasi kira-kira 2 cm, dengan punctum maksimum di
tengah-tengah daerah tersebut. Pulsasi timbul pada waktu sistolis ventrikel.
Bila ictus kordis bergeser ke kiri dan melebar, kemungkinan adanya pembesaran
ventrikel kiri. Pada pericarditis adhesive, ictus keluar terjadi pada waktu
diastolis, dan pada waktu sistolis terjadi retraksi ke dalam. Keadaan ini
disebut ictus kordis negatif. Pulsasi yang kuat pada sela iga III kiri
disebabkan oleh dilatasi arteri pulmonalis. Pulsasi pada supra sternal mungkin
akibat kuatnya denyutan aorta. Pada hipertrofi ventrikel kanan, pulsasi tampak
pada sela iga IV di linea sternalis atau daerah epigastrium. Perhatikan apakah
ada pulsasi arteri intercostalis yang dapat dilihat pada punggung. Keadaan ini
didapatkan pada stenosis mitralis. Pulsasi pada leher bagian bawah dekat
scapula ditemukan pada coarctatio aorta.
v Palpasi
Impuls apical terkadang dapat pula
dipalpasi. Normlanya terasa sebagai denyutan ringan, dengan diameter 1 sampai 2
cm. Telapak tangan mula-mula digunakan untuk mengetahui ukuran dan kualitasnya.
Bila impuls apical lebar dan kuat, dinamakan sembulan (heave) atau daya angkat
ventrikel kiri. Dinamakan demikian karena seolah “mengangkat” tangan dari
dinding dada selama palpasi. PMI
abnormal. Bila PMI terletak dibawah ruang interkostal V atau disebelah lateral
garis medioklavikularis, penyebabnya adalah pembesaran ventrikel kiri karena
gagal jantung kiri. Secara normal, PMI hanya teraba pada satu ruang
interkostal. Bila PMI dapat teraba pada dua daerah yang terpisah dan gerakan
denyutannya paradoksal (tidak bersamaan), harus dicurigai adanya aneurisma
ventrikel. Disamping adanya pulsasi
perhatikan adanya getaran ”thrill” yang terasa pada telapak tangan, akibat
kelainan katup-katup jantung. Getaran ini sesuai dengan bising jantung (murmur)
yang kuat pada waktu auskultasi sehingga dapat di palpasi. Thrill juga dapat
dipalpasi diatas pembuluh darah bila ada obstruksi aliran darah yang bermakna,
dan akan terjadi di atas arteri karotis bila ada penyempitan (stenosis) katup
aorta. Tentukan pada fase apa getaran itu terasa, demikian pula lokasinya.
v Perkusi
Kegunaan perkusi
adalah menentukan batas-batas jantung. Pada penderita emfisema paru terdapat
kesukaran perkusi batas-batas jantung. Selain perkusi batas-batas jantung, juga
harus diperkusi pembuluh darah besar di bagian basal jantung. Pada keadaan
normal antara linea sternalis kiri dan kanan pada daerah manubrium sterni
terdapat pekak yang merupakan daerah aorta. Bila daerah ini melebar,
kemungkinan akibat aneurisma aorta.Untuk menentukan batas kiri jantung lakukan
perkusi dari arah lateral ke medial. Batas jantung kiri memanjang dari garis
medioklavikularis di ruang interkostal III sampai V. Perubahan antara bunyi
sonor dari paru-paru ke redup relative kita tetapkan sebagai batas jantung
kiri.
Batas kanan
terletak di bawah batas kanan sternum dan tidak dapat dideteksi. Pembesaran
jantung baik ke kiri maupun ke kanan biasanya akan terlihat. Pada
beberapa orang yang dadanya sangat tebal atau obes atau menderita emfisema,
jantung terletak jauh dibawah permukaan dada sehingga bahkan batas kiri pun
tidak jelas kecuali bila membesar.
v Auskultasi Jantung
Pemeriksaan
auskultasi jantung meliputi pemeriksaan bunyi jantung, bising jantung dan
gesekan pericard.
Bunyi Jantung
Untuk mendengar bunyi jantung,
perhatikan lokalisasi dan asal bunyi jantung, tentukan bunyi jantung S1 dan S2,
intensitas bunyi dan kualitasnya, ada tidaknya bunyi jantung S3 dan bunyi
jantung S4, irama dan frekuensi bunyi jantung, dan bunyi jantung lain yang
menyertai bunyi jantung.
1.
Lokalisasi dan asal bunyi jantung
Auskultasi
bunyi jantung dilakukan pada tempat-tempat sebagai berikut :
- Ictus cordis
untuk mendengar bunyi jantung yang berasal dari katup mitral
- Intercostal II
kiri untuk mendengar bunyi jantung yang berasal dari katup pulmonal.
- Intercostal III
kanan untuk mendengar bunyi jantung yang berasal dari aorta
- Intercostal IV
dan V di tepi kanan dan kiri sternum atau ujung sternum untuk mendengar bunyi
jantung yang berasal dari katup trikuspidal.
Tempat-tempat
auskultasi di atas adalah tidak sesuai dengan tempat dan letak anatomis dari
katup-katup yang bersangkutan. Hal ini akibat penghantaran bunyi jantung ke
dinding dada.
2.
Menentukan bunyi jantung I dan II
Pada orang sehat dapat didengar 2
macam bunyi jantung :
- Bunyi jantung
I (S1), ditimbulkan oleh penutupan katup-katup mitral dan
trikuspidal. Bunyi ini adalah tanda mulainya fase sistole ventrikel. Bunyi
jantung I di dengar bertepatan dengan terabanya pulsasi nadi pada arteri
carotis.
- Bunyi jantung
II (S2), ditimbulkan oleh penutupan katup-katup aorta dan pulmonal
dan tanda dimulainya fase diastole ventrikel.
3. Intesitas
dan Kualitas Bunyi
Intensitas bunyi jantung sangat
dipengaruhi oleh tebalnya dinding dada dan adanya cairan dalam rongga pericard.
Intensitas dari bunyi jantung harus
ditentukan menurut pelannya atau kerasnya bunyi yang terdengar. Bunyi jantung I
pada umumnya lebih keras dari bunyi jantung II di daerah apeks jantung,
sedangkan di bagian basal bunyi jantung II lebih besar daripada bunyi jantung
I.
4.
Perhatikan pula kualitas bunyi jantung
Pada keadaan splitting (bunyi
jantung yang pecah), yaitu bunyi jantung I pecah akibat penutupan katup mitral
dan trikuspid tidak bersamaan. Hal ini mungkin ditemukan pada keadaan normal.
Bunyi jantung ke 2 yang pecah, dalam keadaan normal ditemukan pada waktu
inspitasi di mana P 2 lebih lambat dari A 2. Pada keadaan dimana splitting
bunyi jantung tidak menghilang pada respirasi (fixed splitting), maka keadaan
ini biasanya patologis dan ditemukan pada ASD dan Right Bundle branch Block
(RBBB).
5. Ada
tidaknya bunyi jantung III dan bunyi jantung IV
Bunyi jantung ke 3 dengan intensitas
rendah kadang-kadang terdengar pada akhir pengisian cepat ventrikel, bernada
rendah, paling jelas pada daerah apeks jantung. Dalam keadaan normal ditemukan
pada anak-anak dan dewasa muda. Dalam keadaan patologis ditemukan pada kelainan
jantung yang berat misalnya payah jantung dan myocarditis. Bunyi jantung 1, 2
dan 3 memberi bunyi seperti derap kuda, disebut sebagai protodiastolik gallop.
Bunyi jantung ke 4 terjadi karena distensi
ventrikel yang dipaksakan akibat kontraksi atrium, paling jelas terdengar di
apeks cordis, normal pada anak-anak dan pada orang dewasa didapatkan dalam
keadaan patologis yaitu pada A – V block dan hipertensi sistemik. Irama yang
terjadi oleh jantung ke 4 disebut presistolik gallop.
6.
Irama dan frekuensi bunyi jantung
Irama dan frekuensi bunyi jantung
harus dibandingkan dengan frekuensi nadi. Normal irama jantung adalah teratur
dan bila tidak teratur disebut arrhythmia cordis.
Frekuensi bunyi jantung harus
ditentukan dalam semenit, kemudian dibandingkan dengan frekuensi nadi. Bila
frekuensi nadi dan bunyi jantung masing-masing lebih dari 100 kali per menit
disebut tachycardi dan bila frekuensi kurang dari 60 kali per menit disebut
bradycardia.
Kadang-kadang irama jantung berubah
menurut respirasi. Pada waktu ekspirasi lebih lambat, keadaan ini disebut sinus
arrhytmia. Hal ini disebabkan perubahan rangsang susunan saraf otonom pada S –
A node sebagai pacu jantung. Jika irama jantung sama sekali tidak teratur
disebut fibrilasi. Adakalanya irama jantung normal sekali-kali diselingi oleh
suatu denyut jantung yang timbul lebih cepat disebut extrasystole, yang disusul
oleh fase diastole yang lebih panjang (compensatoir pause). Opening snap,
disebabkan oleh pembukaan katup mitral pada stenosa aorta, atau stenosa
pulmonal.
7.
Paru
Temuan yang sering ditemukan pada
pasien jantung meliputi :
•
Takipnea. Napas yang
cepat dan dangkal dapat terlihat pada pasien yang mengalami gagal jantung atau
kesakitan, atau yang sangat cemas.
•
Respirasi chyne-stokes. Pasien
yang menderita gagal ventrikel kiri berat dapat memperlihatkan pernapasan chyne-stokes,
yang ditandai dengan napas cepat berseling dengan periode apnea.
•
Hemoptitis. Sputum yang
berbusa merah muda menunjukkan adanya edema pulmo akut.
•
Batuk. Batuk
kering dan dalam akibat iritasi jalan napas kecil sering dijumpai pada pasien
kongesti pulmo akibat gagal jantung.
•
Krekels. Gagal
jantung atau atelektasis yang berhubungan dengan tirah baring, belatan karena
nyeri iskemia, atau efek obat penghilang nyeri dan penenang sering
mengakibatkan krekels.
•
Mengi. Kompresi
pada jalan napas kecil akibat edema jaringan interstitial paru dapat
mengakibatkan mengi.
8.
Abdomen
Pada pasien jantung, ada 2 komponen
pemeriksaan abdomen yang sering dilakukan
•
Refluks hepatojuguler.
Pembengkakan hepar terjadi akibat penurunan aliran balik vena yang disebabkan
karena gagal ventrikel kanan. Hepar menjadi besar, keras, tidak nyeri tekan,
dan halus. Refluks hepatojuguler dapat diperiksa dengan menekan hepar secara
kuat selama 30 sampai 60 detik dan akan terlihat peninggian tekanan vena
jugularis sebesar 1 cm. Peninggian ini menunjukkan ketidakmampuan sisi kanan
jantung menanggapi kenaikan volume.
•
Distensi kandung kemih. Haluaran
urin merupakan indikator fungsi jantung yang penting. Maka penurunan haluaran
urin merupakan temuan signifikan yang harus diselidiki untuk menentukan apakah
penurunan tersebut merupakan penurunan produksi urin (yang terjadi bila perfusi
ginjal menurun) atau karena ketidakmampuan pasien untuk buang air kecil.
9.
Kaki dan Tungkai
Kebanyakan pasien yang menderita
penyakit jantung mengalami juga penyakit vaskuler perifer, atau edema perifer
akibat gagal ventrikel kanan. Maka pada semua pasien jantung penting dikaji
sirkulasi sirkulasi arteri perifer dan aliran balik vena.
2.3. Pemeriksaan Diagnostik Pada Sistem Kadiovaskuler
v Pemeriksaan
Non Invasive
1. Foto Thorax
2. EKG
3. Treadmill exercise Chest test/ Treadmill test
4. Echocardiography
5. Nuclear cardiology
6. MRI / CT imaging
1. Foto Thorax
2. EKG
3. Treadmill exercise Chest test/ Treadmill test
4. Echocardiography
5. Nuclear cardiology
6. MRI / CT imaging
v Pemeriksaan
Invasive/ kateterisasi
1. Corangiography (untuk deteksi PJK)
2. Right / left heart study (untuk evaluasi kelainan valvuler/ congenital)
3. Elektrofisiologi, untuk evaluasi aritmia
4. Angioskopi untuk menilai karakteristik plak aterosklerosis
1. Corangiography (untuk deteksi PJK)
2. Right / left heart study (untuk evaluasi kelainan valvuler/ congenital)
3. Elektrofisiologi, untuk evaluasi aritmia
4. Angioskopi untuk menilai karakteristik plak aterosklerosis
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
System sirkulasi darah merupakan satu system yang paling penting di dalam
tubuh manusia. Fungsinya adalah untuk membawa oksigen,tenaga dan nutrisi ke
seluruh tubuh fungsi lain yaitu untukTransport: makanan, gas, hormon, mineral,
enzim, sisa metabolism, Mempertahankan suhu tubuh dengan cara vasokontriksi dan
vasodilatasi Perlindungan melalui sistem imun dan pembekuan darah Buffering,
protein darah merupakan sisten buffer yang mempertahankan pH darah .
Untuk dapat mengetahui adanya kelainan-kelainan
jantung maka perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menegakan diagnosa
tersebut.
Dalam
melakukan Tes diagnostik kardiovaskuler meliputi dua jenis pemeriksaan yaitu:
Invassive (melukai )dan Non Invassive (tidak melukai). Contoh pemeriksaan
penunjang tersebut adalah tes diagnostic, seperti EKG, fhoto thorax, TMT dll.
3.2. Saran
Dari
pemaparan diatas, penulis memberikan saran agar dalam ilmu kesehatan maupun
ilmu alam lainnya penting sekali memahai pengkajian sistem kardiovaskuler
secara tepat agar terhindar dari kelalaian baik itu dirumah sakit maupun di
alam yang berkaitan dengan perubahan fungsi tubuh akibat kurangnya aktifitas
positif untuk memberikan kesehatan terhadap jantung sebagai pusat kehidupan.
DAFTAR
ISI
Brunner & suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
Sylvia A. Price, Lorrain M. Wilson. 2005.
Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC : Jakarta.
Guyton. 1990. Fisiologi Manusia dan Mekanisme
Penyakit. EGC : Jakarta.
Doengoes Marlyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar